SP-3/KO.13/2026
SIARAN PERS
SEKTOR JASA KEUANGAN DI JAWA TENGAH STABIL DAN TERJAGA
Semarang, 09 April 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Tengah menilai kondisi sektor jasa keuangan di Provinsi Jawa Tengah per Januari 2026 dalam kondisi stabil didukung dengan likuiditas yang memadai dan tingkat risiko yang terjaga.
Perkembangan Perbankan di Jawa Tengah
| 
|
|
Dana Pihak Ketiga (DPK) mengalami kenaikan 2,40 persen (yoy) menjadi sebesar Rp473,05 triliun dan kredit yang disalurkan terkontraksi sebesar -0,07 persen (yoy) menjadi sebesar Rp420,21 triliun, Aset perbankan di Jawa Tengah terkontraksi sebesar -1,50 persen (yoy) atau menjadi sebesar Rp573,53 triliun.
Perkembangan Kinerja Bank Umum di Jawa Tengah
| 
|
|
Selanjutnya, untuk Aset Bank Umum di Jawa Tengah terkontraksi sebesar -2,00 persen (yoy) atau menjadi sebesar Rp521,25 triliun, hal ini diikuti dengan Kredit Bank Umum di Jawa Tengah yang terkontraksi sebesar -0,40 persen (yoy) menjadi Rp381,54 triliun. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Umum di Jawa Tengah tumbuh sebesar 2,21 persen (yoy) menjadi Rp432,28 triliun.
Kinerja intermediasi Bank Umum di Jawa Tengah terjaga dengan total Loan to Deposit Ratio (LDR) 88,26 persen sehingga bank umum di Jawa Tengah masih memiliki ruang cukup besar untuk penyaluran kredit dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Untuk menjaga tingkat NPL, OJK terus melakukan pengawasan secara intensif kepada bank dan memerintahkan bank untuk membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang memadai sesuai ketentuan yang berlaku.
Perkembangan Kinerja BPR/S di Jawa Tengah
| 
| |
Perkembangan BPR/S di Jawa Tengah mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 3,80 persen (yoy) sebesar Rp52,28 triliun yang diikuti dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) BPR/S sebesar 4,43 persen (yoy) sebesar Rp40,78 triliun. Adapun Kredit BPR/S di Jawa Tengah mampu tumbuh sebesar 3,32 persen (yoy) menjadi Rp38,67 triliun.
Perkembangan Kinerja Perbankan Syariah di Jawa Tengah
| 
| |
Selanjutnya, kinerja Perbankan Syariah di Jawa Tengah per Januari 2026 juga mencatatkan kenaikan dilihat dari aset mencapai Rp49,19 triliun atau tumbuh sebesar 3,33 persen (yoy) yang diikuti dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 4,47 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp39,85 triliun. Adapun pembiayaan yang disalurkan tumbuh sebesar 11,03 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp36,96 triliun.
Perkembangan Kinerja Industri Jasa Keuangan – Industri Keuangan Non-Bank (IKNB)
Pada sektor IKNB, untuk posisi per Januari 2026, Perusahaan Pembiayaan di Jawa Tengah mencatatkan nilai piutang pembiayaan tumbuh sebesar 1,59 persen (yoy) mencapai Rp33,96 triliun dengan NPF sebesar 3,26 persen. Sementara itu, modal ventura di Jawa Tengah mengalami kenaikan penyaluran sebesar 15,22 persen yoy dengan total nominal sebesar Rp1,10 triliun. Sedangkan aset Dana Pensiun di Jawa Tengah tercatat tumbuh sebesar 5,51 persen (yoy) mencapai Rp7,29 triliun, sejalan dengan tingginya tingkat angkatan kerja di Jawa Tengah.
| 
| |
Kemudian dari Fintech Peer to Peer (P2P) Lending berdasarkan data hingga Desember 2025 mencatatkan penyaluran kredit yang tumbuh sebesar 24,80 persen (yoy) mencapai Rp8,03 triliun dengan tingkat wanprestasi (TWP 90) sebesar 2,81 persen. Hal ini didukung oleh kemudahan masyarakat dalam mengakses pendanaan dari Fintech Peer to Peer (P2P) Lending.
| 
| |
Selanjutnya untuk Industri Keuangan Pergadaian hingga posisi bulan Desember 2025 mencatatkan pertumbuhan jumlah pinjaman yang disalurkan mencapai 36,50 persen (yoy) yang menjadi sebesar Rp8,997 triliun dengan peningkatan aset tumbuh 43,40% menjadi sebesar Rp 218 triliun.
| 
|
|
Sementara itu, Perusahaan Penjaminan di Jawa Tengah posisi bulan Januari 2026 mencatatkan peningkatan aset sebesar 28,90 persen (yoy) menjadi sebesar Rp727 miliar dengan pinjaman yang disalurkan sebear Rp2,672 triliun atau terkontraksi sebesar -32,29 persen (yoy).
Perkembangan Kinerja Industri Jasa Keuangan - Sektor Pasar Modal
| 
| |
Transaksi Pasar Modal di Jawa Tengah didominasi oleh investor individu dengan jumlah SID Reksadana mencapai 2.165.157 investor pada Januari 2026 dengan growth yang meningkat sebesar 38,29 persen (yoy). Sementara itu jumlah SID saham sebesar 1.097.036 investor dengan growth yang meningkat sebesar 43,20 persen (yoy) dan SID SBN sebesar 121.913 investor dengan growth yang meningkat sebesar 22,32 persen (yoy). Total nilai transaksi saham pada Januari 2026 sebesar Rp38,21 triliun.
Perkembangan Edukasi dan Pelindungan Konsumen
Sampai dengan 31 Maret 2026, OJK Provinsi Jawa Tengah dan DIY menerima pengaduan yang masuk melalui Aplikasi Portal Perlindungan Konsumen (APPK) sebanyak 2.478 pengaduan. Berdasarkan jenis aduan terbanyak adalah sektor Perbankan sebanyak 1.314 pengaduan, Pinjaman daring (Pindar) sebanyak 682 pengaduan, Pembiayaan sebanyak 362 pengaduan, Asuransi sebanyak 14 pengaduan, LJK lainnya sebanyak 70 pengaduan dan Non LJK 36 pengaduan.
Untuk menurunkan jumlah pengaduan, OJK Provinsi Jawa Tengah dan DIY terus melaksanakan kegiatan edukasi secara masif kepada masyarakat, sampai dengan 31 Maret 2026 telah dilaksanakan sebanyak 103 kegiatan edukasi kepada masyarakat termasuk petani, pelajar dan pelaku UMKM dengan diikuti oleh sebanyak 40.714 orang sebagai peserta.
***
Informasi lebih lanjut
Kepala OJK Provinsi Jawa Tengah – Hidayat Prabowo
Telp. (024) 8600 3000